Rabu, 02 Januari 2013

TOKOH-TOKOH INSPIRATIF DALAM NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA AHMAD FUADI


              Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta (Shastra). ‘Sastra’ berarti ”teks yang mengandung instruksi” atau ”pedoman” dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti ”instruksi” atau ”ajaran” dan ’Tra’ yang berarti ”alat” atau ”sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada ”kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sejumlah para ahli telah mendefinisikan tentang pengertian karya sastra. Menurut Mursal Esten (1978 : 9), ”Karya sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan)”. Menurut Semi (1988 : 8 ), ”Karya sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya”. Karya sastra menurut Plato adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. Dengan demikian, karya sastra dapat didefinisikan sebagai hasil imajinasi yang ditambah dengan realita atau gambaran kehidupan yang merupakan kenyataan sosial yang dikembangkan oleh pengarang di dalam karyanya.
            Karya sastra terbagi atas tiga jenis, yaitu puisi, prosa, dan drama. Puisi adalah karya sastra yang terikat dengan kaidah dan aturan tertentu. Contoh karya sastra puisi yaitu puisi, pantun, dan syair. Puisi merupakan rekaman dan interprestasi pengalaman manusia yang penting yang diubah dalam wujud yang paling berkesan. Puisi sebagai salah satu genre sastra memiliki struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik terdiri dari bunyi suasana, gaya bahasa, tipografi, pencitraan, diksi, dan nada. Struktur batin terdiri dari amanat dan konvensi budaya. Prosa sebagai genre sastra adalah karangan bebas yang mengekspresikan pengalaman batin pengarang mengenai masalah kehidupan dalam bentuk dan isi yang harmonis yang menimbulkan kesan estetik. Prosa memiliki dua ragam, yaitu prosa fiksi dan prosa nonfiksi. Prosa fiksi terbagi ke dalam prosa lama dan prosa baru. Prosa lama meliputi dongeng, mite, legenda, sage, fabel, dan dongeng. Prosa baru meliputi cerita pendek, roman, dan novel. Prosa nonfiksi meliputi biografi dan otobiografi, kisah dan lukisan, sejarah, tambo, babad, esai, dan kritik sastra. Prosa terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik prosa meliputi alur, latar, penokohan, tema, gaya bahasa, dan sudut pandang. Unsur ekstrinsik prosa meliputi amanat dan konvensi budaya. Drama adalah genre sastra yang ketiga. Drama berasal dari bahasa Yunani, draomai yang artinya berbuat, beraksi, dan bertindak. Drama adalah karya sastra yang menampilkan tiruan kehidupan yang dipentaskan di atas panggung. Drama sebagai karya sastra memiliki unsur pembentuk yang sama seperti pada prosa, sedangkan drama sebagai seni pertunjukan meliputi adegan, kostum, tata rias, tata lampu, pentas, pemain, dan penonton.
            Genre sastra seperti yang telah diuraikan sebelumnya terdiri dari puisi, prosa, dan drama. Genre sastra yang akan dibahas dalam pembahasan ini adalah prosa fiksi, yaitu novel. Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif, biasanya dalam bentuk cerita. Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Novel umumnya bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari dengan menitikberatkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut. Unsur pembentuk novel terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang membangun dari dalam fiksi itu sendiri, meliputi alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan tema. Unsur ekstrinsik ialah unsur yang mempengaruhi penciptaan fiksi dari luar, meliputi amanat, agama, sosial, moral, politik, pendidikan, ekonomi, dan budaya. Novel yang akan dianalisis adalah sebuah novel best seller karya Ahmad Fuadi yang berjudul ”Negeri 5 Menara”. Penjabaran unsur intrinsik prosa fiksi (novel) adalah sebagai berikut.
            Alur atau plot adalah cerita yang berisi peristiwa atau kejadian yang dihubungkan secara sebab-akibat, artinya peristiwa yang satu disebabkan oleh peristiwa yang lain atau sebaliknya. Alur terbagi menjadi tiga macam, yaitu alur progresif (maju), regresif (mundur), dan flashback (maju-mundur-maju). Alur dalam novel Negeri 5 Menara adalah alur flashback (maju-mundur-maju). Ini terlihat dari kisah Alif Fikri yang berada di Washington DC. ”Washington DC, Desember 2003” (N5M, 2009:1)
            Cerita dimulai dari keberadaan alif di Washington DC. Dia menerima pesan singkat dari Atang, teman Sahibul Menara ketika dia belajar di Pondok Madani (PM). Seketika itu pula Alif teringat dengan masa-masa dia dipaksa oleh amaknya untuk melanjutkan sekolah ke madrasah Aliyah, sedangkan dia menginginkan masuk SMA. Kenangan itu sampai kepada kisahnya di masa lalu. ”Ping…bunyi halus dari messenger menghentikan tanganku. Sebuah pesan pendek muncul berkedip-kedip di ujung kanan monitor….Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.” (N5M, 2009:3-4)
            Pikiran Alif yang terbang jauh ke masa lalu memulai kisahnya sebelum belajar di pondok dan pada saat berada di PM. Kemudian, setelah ingatannya akan masa lalu, cerita kembali kepada masa sekarang, di mana Alif berjanji berjumpa dengan Atang dan Raja di London setelah pesan singkat yang dikirimkan Atang padanya. ”London, Desember 2003. Bunyi gemeretak terdengar setiap sepatuku melindas onggokan salju tipis yang menutupi permukaan trotoar….tidak salah lagi dia Atang. Dia memeluk kami dan menepuk-nepuk punggungku yang dilapisi jaket tebal.” (N5M, 2009:400-402)
            Tokoh dan penokohan. Tokoh adalah orang-orang yang terlibat dalam suatu cerita. Penokohan adalah karakter atau watak dari tokoh dalam suatu cerita. Tokoh ada yang bersifat protagonis dan ada yang bersifat antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang berwatak baik. Tokoh antagonis adalah tokoh yang berwatak jahat. Tokoh dan penokohan dalam novel Negeri 5 Menara, sebagai berikut.
            Alif Fikri adalah tokoh utama dalam cerita karena penceritaannya lebih dominan ditampilkan. Alif adalah anggota dari Sahibul Menara yang berasal dari Sumatera Barat. Tokoh Alif bersifat protagonis karena dia adalah seorang anak yang penurut kepada orangtuanya, terlebih kepada amaknya. Ini terlihat saat Alif mengikuti keinginan amaknya untuk belajar di pondok, padahal dia menginginkan masuk SMA. ”Amak, kalau memang harus sekolah agama, ambo ingin masuk pondok saja di Jawa. Tidak mau di Bukittinggi atau Padang,” kataku di mulut pintu. Suara cempreng puberitasku memecah keheningan Minggu pagi itu. (N5M, 2009:12)
            Alif sebagai seorang sahabat adalah sahabat yang setia terhadap Sahibul Menaranya. Dia selalu berbagi di saat suka maupun duka. ”Selesai main basket, aku menghampirinya dan menawarkan diri untuk menemaninya ke klinik PM yang berada di sebelah kompleks olahraga. Kurang sehat? Sakit gigi? Yuk kita ke klinik,” ajakku. (N5M, 2009:358)
            Said Jufri adalah anggota Sahibul Menara yang berasal dari Surabaya. Dia memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar. Said adalah mantan anak nakal yang insyaf dan ingin belajar agama. Tokoh Said bersifat protagonis karena Said memiliki semangat yang tinggi dan selalu memberikan motivasi kepada anggota Sahibul Menara. ”Mari kita dekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan batin,” katanya memberikan motivasi di depan kelas tanpa ada yang meminta. (N5M, 2009:45)
            Baso Salahuddin adalah anggota Sahibul Menara yang berasal dari Sulawesi. Alasan dia masuk ke PM ingin mendalami agama Islam dan menjadi hafiz-penghapal Al-Quran. Baso adalah tokoh yang protagonis. Ini terlihat dari sikapnya yang paling bersegera kalau disuruh ke mesjid dan rajin mengaji. ”Baso adalah anak yang paling rajin di antara kami dan paling bersegera kalau disuruh ke mesjid. Sejak mendeklarasikan niat untuk menghapal lebih dari enam ribu ayat Al-Quran di luar kepala, dia begitu disiplin menyediakan waktu untuk membaca buku favoritnya: Al-Quran butut yang dibawa dari kampung sendiri.” (N5M, 2009:92)
            Baso selalu bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Quran dan buku pelajaran, serta rajin melaksanakan shalat. Dia adalah anak yang paling rajin dan pintar di antara anggota Sahibul Menara. ”Hampir setiap waktu kami melihat Baso membaca buku pelajaran dan Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Tapi dia tetap saja menghabiskan waktu untuk belajar, mengaji, shalat, lalu belajar, mengaji, dan shalat.” (N5M, 2009:357)
            Raja Lubis adalah anggota Sahibul Menara yang berasal dari Medan. Dia memiliki badan yang kurus, berkulit bersih, bermata dalam, dan bermuka petak.  Raja adalah tokoh yang bersifat protagonis. Ini tergambarkan dari kepintarannya dan seringnya ia mendapatkan nilai yang tinggi. Raja juga sangat ahli berpidato dan sangat menggebu-gebu mendalami aneka bahasa, khususnya bahasa Inggris. Melalui pidatonya dia mampu membakar semangat teman-temannya. ”Bagiku, Raja telah lama menjadi role model. Sejak hari pertama di PM, dia seorang yang sangat menggebu-gebu mendalami aneka bahasa, khususnya bahasa Inggris. Kemampuan pidato dan debat adalah bidang lain yang dia asah. Berkali-kali dia menyabet juara dalam lomba public speaking antar asrama dan antar kelas, baik bahasa Indonesia, Inggris, atau Arab.” (N5M, 2009:301)
            Atang adalah anggota Sahibul Menara yang berasal dari Bandung. Atang seorang anak yang jangkung berambut pendek tegak, memakai kacamata tebal, dan berwajah putih. Atang adalah tokoh yang protagonis karena sebagai sahabat, dia bermurah hati membagikan ilmunya kepada Sahibul Menara. Atang menyukai teater dan dia sering mengajarkan anggota Sahibul Menara agar menggunakan napas perut supaya suara menjadi bulat dan lantang. ”Atang yang pemain teater mengajarkanku agar menggunakan napas perut supaya suara menjadi bulat dan lantang.” (N5M, 2009:152)
            Dia juga mempunyai keinginan menjadi Teuku yang membaca Al-Quran dengan suara bak gelombang lautan yang bergelora. ”Selain teater, Atang mengaku mempunyai sebuah keinginan terpendam, yaitu menjelma menjadi Teuku yang membaca al-Quran dengan suara bak gelombang lautan yang bergelora. Walau modal suara pas-pasan, Atang tetap membulatkan tekad untuk menjadi anggota Jammiatul Qura, sebuah grup mengasah suara dan kefasihan melantunkan ayat Tuhan.” (N5M, 2009:163)
            Dulmajid adalah anggota Sahibul Menara yang berasal dari Madura. Kulitnya gelap dan wajahnya keras, berkacamata frame dan tebal, sehingga tampak terpelajar. Dulmajid adalah tokoh yang bersifat protagonis karena sebagai teman, dia teman yang paling jujur dan paling setia kawan. Dia rela berkorban demi mewujudkan keinginan teman-temannya. ”Kini giliran Ustad Torik berbicara. Matanya menatap Dul dalam-dalam, tangannya terangkat menunjuk-nunjuk aula. Kami ikut merasakan ketegangan Dul. Kasihan dia telah berkorban melakukan diplomasi melawan Ustad Torik hanya buat kami para umat penggemar Icuk Sugiarto.” (N5M, 2009:181)
            Dulmajid adalah sosok yang selalu serius dalam melakukan pekerjaannya. ”Dulmajid, kawan Maduraku yang lugu dapat jabatan yang mungkin paling tepat: salah seorang dari lima redaktur majalah Syam. Selama ini dia adalah sosok yang selalu serius dan keras hati untuk merebut target-targetnya.” (N5M, 2009:304)
            Amak adalah ibu Alif yang penyayang dan taat beragama. Amak seorang ibu yang selalu mengajarkan anak-anaknya disiplin dalam melakukan segala hal dalam hidup mereka. Amak selalu menyuruh anak-anaknya melakukan dan mengerjakan perintah agama. Selain itu, amak adalah sosok yang keras hati dalam mempertahankan suatu prinsip yang menurutnya benar. Hal-hal tersebut sangat jelas menunjukan bahwa tokoh amak bersifat protagonis.
”Amak ingin anak laki-lakiku menjadi seorang pemimpin agama yang hebat dengan pengetahuan yang luas. Seperti Buya Hamka yang sekampung dengan kita itu. Melakukan amar makruh nahi munkar, kata amak pelan-pelan.” (N5M, 2009:8)
”Bang, ambo ingin berlaku adil, dan keadilan harus dimulai dari diri sendiri, bahkan dari anak sendiri. Aturannya adalah siapa yang tidak mau praktek menyanyi dapat angka merah, kata amak ketika ayah bertanya, kok tega memberi angka buruk buat anak sendiri.” (N5M, 2009:139)
            Ayah adalah orangtua Alif. Ayah adalah tokoh yang bersifat protagonis. Ayah adalah sosok orangtua yang penyayang dan tenang. Ayah selalu menyebut-nyebut keteladanan Bung Hatta dan dia percaya untuk berjuang bagi agama, orang tidak harus masuk madrasah. ”Ayah percaya untuk berjuang bagi agama, orang tidak harus masuk madrasah. Dia lebih sering menyebut-nyebut keteladanan Bung Hatta, Bung Sjahrir, Pak Natsir, atau Haji Agus Salim dibanding Buya Hamka. Padahal latar belakang religius ayahku tidak kalah kuat. Ayah dari ayahku adalah ulama yang terkenal di Minangkabau.” (N5M, 2009:10)
            Ustad Salman adalah guru atau pengajar di PM. Beliau bertubuh ramping dan berwajah lonjong. Ustad Salmad adalah tokoh protagonis, terlihat dari sifatnya yang periang dan ramah. Beliau adalah guru yang cerdas.
”Bola matanya yang lincah memancarkan sinar kecerdasan. Pas sekali dengan gerak kaki dan tangannya yang gesit ke setiap sudut kelas…” (N5M, 2009:41)
”Tangan kanannya mengibas-ngibas mengisyaratkan kami masuk. Setiap kami disodori senyum sepuluh senti yang membentang di wajahnya. Laki-laki periang itu adalah Ustad Salman.” (N5M, 2009:42)
            Ustad Faris adalah guru PM yang berasal dari Kalimantan. Beliau mengajar mata pelajaran Al-Quran dan Hadist. Ustad Faris adalah tokoh protagonis. Ini tergambar dari sifat beliau yang selalu mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Quran dan hadist dengan menggunakan mata hati. ”Bacalah Al-Quran dan hadist dengan mata hati kalian. Resapi dan lihatlah mereka secara menyeluruh, saling berkait menjadi pelita bagi kehidupan kita, katanya dengan suara bariton yang sangat terjaga vibranya. Kalau dia sudah bicara begini, seisi kelas senyap, diam, dan tafakur.” (N5M, 2009:113)
            Kiai Rais adalah ma’had pimpinan PM. Kiai Rais adalah tokoh protagonis. Ini terlihat dari sosok beliau yang menjadi panutan bagi semua orang selama berada di PM. Dia seorang pendidik dengan pengetahuan dan pengalaman lengkap. Beliau disebut sebagai renaissance man. Beliau selalu memberikan penguatan agama kepada seluruh murid PM.
”Di buku ini ada biografi ringkas beliau. Menurut penulisnya, Kiai Rais cocok disebut sebagai renaissance man, pribadi yang tercerahkan karena aneka ragam ilmu dan kegiatannya.” (N5M, 2009:49)
”Tenang bos. Kata buku ini Kiai Rais itu seperti ’mata air ilmu’. Mengalir terus. Dalam seminggu ini pasti kita akan mendengar dia memberi petuah berkali-kali, jawab Raja penuh harap.” (N5M, 2009:49)
”Suara Kiai Rais yang penuh semangat terngiang-ngiang di telingaku: ’Pasang niat, berusaha keras dan berdoa khusyuk, lambat laun, apa yang kalian perjuangkan akan berhasil’ Ini sunnatullah-hukum Tuhan.”  (N5M, 2009:136)
            Tyson adalah murid senior yang bernama lengkap Rajab Sujai dan menjabat sebagai kepala keamanan pusat, pengendali penegakkan disiplin di PM. Tyson adalah tokoh protagonis, terlihat dari keteladanannya menegakkan kedisiplinan di PM. ”Kerjanya berkeliling pondok, pagi, siang dan malam dengan kereta angin. Dia tahu segala penjuru PM seperti mengenal telapak tangannya. Begitu ada pelanggaran ketertiban di sudut PM mana pun, dia melesat dengan sepedanya ke tempat kejadian dan langsung menegakkan hukum di tempat, saat itu juga, seperti layaknya superhero.” (N5M, 2009:68)
            Tyson ditakuti oleh semua murid di PM karena ketegasannya menegakkan disiplin, tetapi ini dilakukannya dengan niat agar semua murid terbiasa hidup disiplin. ”Tidak heran, semua murid menakutinya. Baru melihat sepeda hitam berkelebat, hidup rasanya sudah was-was. Dan bagi kami berenam, Tyson kami nobatkan sebagai horor nomor satu kami.” (N5M, 2009:68)
            Ustad Torik adalah kepala di kantor pengasuhan (KP) yang merupakan kantor keamanan teratas di PM. Dia adalah ustad senior yang sangat disiplin dan selalu memegang teguh aturan seperti hukum besi. Di balik semua itu, Ustad Torik adalah pribadi yang menyenangkan apabila dia sedang bermain bulutangkis. Ini menunjukkan bahwa Ustad Torik adalah tokoh protagonis. ”Tapi, di lapangan bulutangkis, Ustad Torik adalah pribadi yang lain. Badannya dibungkus kaos dan celana training bergaris kuning seperti punya Bruce Lee. Mukanya animatik dan bahagia. Gerakannya lincah dan agresif. Sesekali dia bercanda kalau pukulannya masuk atau menyangkut net.” (N5M, 2009:180-181)
            Randai adalah teman akrab Alif dari Madrasah Tsanawiyah. Randai adalah tokoh protagonis karena dia adalah teman yang sangat baik. Randai dan Alif sama-sama ingin melanjutkan sekolah ke SMA, tetapi hanya Randai yang jadi masuk SMA. Randai sering berkirim surat pada Alif dan selalu menceritakan keindahan SMA. ”Alhamdulillah, sesuai cita-cita, aku diterima di SMA Bukittinggi. Sekarang aku sedang maprasmasa perkenalan siswa. Kau tahu Lif, ternyata ’keindahan’ SMA yang kita bayangkan dulu tidak ada apa-apanya dengan yang sebenarnya. SMA benar-benar tempat yang menyenangkan untuk belajar dan bergaul. Guru-gurunya juga yang paling terkenal di Sumatera Barat…” (N5M, 2009:101-102)
            Sarah adalah anak perempuan dari Ustad Khalid. Dia cantik, putih, dan mengenakan jilbab. Sarah adalah tokoh protagonis karena ia adalah anak perempuan yang menjaga auratnya, serta menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. ”Di belakang Ustad Khalid muncul Sarah. Jilbab pink melingkar di wajahnya yang bulat putih. Baju kurung dan rok panjangnya sepadan dengan warna tutup kepalanya.” (N5M, 2009:259)
            Latar adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam suatu cerita. Latar merupakan sarana memperkuat serta menghidupkan jalan cerita. Unsur latar dapat dibedakan dalam tiga unsur pokok. Pertama, latar tempat, yaitu mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan. Kedua, latar waktu, yaitu berhubungan dengan ’kapan’ terjadinya peristiwa yang diceritakan. Ketiga, latar sosial, yaitu mengacu pada hal-hal perilaku sosial masyarakat di suatu tempat dalam cerita, seperti adat istiadat, tradisi, kepercayaan, cara berfikir, pandangan hidup, dan sebagainya. Latar juga dibedakan menjadi latar netral, yaitu sebuah karya yang hanya sekadar sebagai tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan, tidak lebih dari itu dan latar tipikal adalah sebuah karya yang memiliki dan menonjolkan sifat khas latar tertentu. Latar dalam novel Negeri 5 Menara, sebagai berikut.
            Latar tempat dalam novel Negeri 5 Menara ialah Washington DC, Danau Maninjau-Sumatera Barat, Pondok Madani-Jawa Timur, dan London. Latar berawal dari Washington DC, saat Alif menerima pesan singkat dari Sahibul Menara, yaitu Atang.
”Washington DC, Desember 2003, jam 16.00….Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar…” (N5M, 2009:1)
”ping…bunyi halus dari messenger menghentikan tanganku. Sebuah pesan pendek muncul berkedip-kedip di ujung kanan monitor….Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.” (N5M, 2009:3-4)
            Kemudian, setelah membaca pesan dari Atang, ingatan Alif terbang ke masa lalu saat ia masih berada di daerah kelahirannya, Danau Maninjau, Sumatera Barat. Masa lalu Alif kembali diceritakan yang bermula dari kisahnya di Danau Maninjau, hingga pada saat dia melanjutkan pendidikan ke Pondok Madani di Jawa Timur.
”Baik-baik di rantau urang, nak. Amak percaya ini perjalanan untuk membela agama. Belajar ilmu agama sama dengan berjihad di jalan Allah, kata beliau….kawasan Danau Maninjau menyerupai kuali raksasa, dan kami sekarang memanjat pinggir kuali untuk keluar.” (N5M, 2009:14-15)
”Bapak, Ibu dan tamu pondok yang berbahagia. Selamat datang di Pondok Madani. Hari ini saya akan menemani Anda semua untuk keliling melihat berbagai sudut pondok seluas lima belas hektar ini.” (N5M, 2009:30)
            Cerita ditutup dengan latar tempat di London, saat Alif bertemu dengan Atang dan Raja setelah dia menerima pesan singkat dari Atang. Ini sesuai dengan alur novel yang flashback (maju-mundur-maju). ”London, Desember 2003….Pertemuan bersejarah, di tempat yang bersejarah, di jantung Kota London! Alhamdulillah, katanya” (N5M, 2009:402)
            Latar waktu dalam novel Negeri 5 Menara adalah siang hari, sore hari, dan malam hari. Novel ini menceritakan tentang kisah Alif dan Sahibul Menara saat belajar di PM pada siang hingga malam hari.  ”Aku sendiri belum beruntung. Sampai esok harinya jam makan siang, kartu jasusku masih kosong. Aku mulai cemas! Semua orang tampaknya hari ini berkonspirasi untuk berkelakuan baik, sehingga tidak ada pelanggaran yang aku temukan.” (N5M, 2009:80-81)
             Latar waktu saat Alif berada di Washington DC adalah sore hari. Selain itu, latar waktu saat dia mendengar keinginan amaknya agar dia masuk madrasah adalah malam hari.
”Matahari sore menggantung condong ke barat berbentuk piring putih susu. Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun putih gading…” (N5M, 2009:1)
”Aku semakin panik, azan Ashar berkumandang tapi kartuku masih kosong.” (N5M, 2009:81)
”Tidak biasanya, malam ini amak tidak mengibarkan senyum….tentang sekolah waang, Lif.” (N5M, 2009:6)
            Latar suasana dalam novel Negeri 5 Menara adalah perasaan gembira, sedih, dan marah. Ini dikarenakan novel ini menceritakan tentang kisah kehidupan tokoh utama, yaitu Alif. Perasaan senang saat dia lulus SMP dengan prestasi yang membanggakan. ”Tepuk tangan murid, orangtua dan guru riuh mengepung aula. Muka dan kupingku bersemu merah tapi jantungku melonjak-lonjak girang.” (N5M, 2009:5)
            Perasaan marah saat mendengar keinginan amaknya untuk melanjutkan sekolah ke madrasah. ”Tapi amak, ambo tidak berbakat dengan ilmu agama. Ambo ingin menjadi insinyur dan ahli ekonomi, tangkisku sengit. Mukaku merah dan mata terasa panas.” (N5M, 2009:9) 
            Perasaan sedih juga tergambar saat Alif harus mengikuti keinginan amaknya. Jadi, latar suasana dalam novel menggambarkan keadaan batin tokoh utama. ”Bukan gembira, tapi ada rasa nyeri yang aneh bersekutu di dadaku mendengar persetujuan mereka. Ini jelas bukan pilihan utamaku. Bahkan sesungguhnya aku sendiri belum yakin betul dengan keputusan ini. Ini keputusan setengah hati.” (N5M, 2009:13)
            Latar sosial dalam novel Negeri 5 Menara berupa konflik antar tokoh di mana keinginan amak dengan Alif saling bertentangan. Amak menginginkan alif menjadi seperti Buya Hamka yang ahli ilmu agama. Alif terpaksa mengikuti keinginan amaknya untuk masuk pesantren. Saat itu berbagai gejolak perasaan dirasakan oleh alif, dia tidak terima harus masuk sekolah agama karena cita-citanya ialah menjadi seperti BJ. Habibie. ”Amak ingin anak laki-lakiku menjadi seorang pemimpin agama yang hebat dengan pengetahuan yang luas. Seperti Buya Hamka yang sekampung dengan kita itu.” (N5M, 2009:8)
            Latar sosial dalam novel Negeri 5 Menara ini lebih menggambarkan tentang serentetan aturan yang ketat, lingkungan belajar yang kondusif, dan keikhlasan yang selalu dipertontonkan di setiap sudut PM. Para murid bukan hanya mendapatkan materi secara  kering, tetapi mendapatkan ruh, spirit dalam berjuang mewujudkan cita-cita.
”….ingat juga bahwa aturan di sini punya konsekuensi hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Kalau tidak bisa mengikuti aturan, mungkin kalian tidak cocok di sini.” (N5M, 2009:51)
”Menuntut ilmu di PM bukan buat gagah-gagahan dan bukan biar bisa bahasa asing. Tapi menuntut ilmu karena Tuhan semata. Karena itulah kalian tidak akan kami beri ijazah, tidak akan kami beri ikan, tapi akan mendapat ilmu dan kail. Kami para ustad, ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlaskan pula niat untuk mau dididik.” (N5M, 2009:50)
            Latar sosial juga terlihat dari cara berfikir para anggota Sahibul Menara yang tidak pernah meremehkan impian walau setinggi apapun. Mereka tetap optimis dapat mewujudkan impian mereka untuk menginjak negera impian mereka masing-masing. Cara berfikir mereka yang menganggap tidak ada impian yang tidak bisa diraih dengan kerja keras. ”Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Tapi lihatlah hari ini. Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. Kami berenam telah berada di lima negara yang berbeda. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.” (N5M, 2009:405)
            Novel ini merupakan karya berlatar tipikal karena memiliki dan menonjolkan sifat khas latar tertentu. Latar tertentu yang ditonjolkan dalam novel ini yaitu latar sosial. Latar sosial ini berupa cara berpikir para tokoh seperti pada kutipan di atas.
            Sudut pandang adalah cara, strategi, teknik yang dipilih oleh pengarang untuk mengemukakan gagasan ceritanya. Sudut pandang dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, sudut pandang persona ketiga atau ”Dia” maksudnya, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata-kata gantinya, seperti ia, dia, mereka, dan kalian. Kedua, sudut pandang persona pertama atau “Aku” di mana narator adalah seorang yang ikut terlibat dalam cerita, si ”Aku” dalam tokoh adalah mengisahkan dirinya sendiri. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti apa yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”Aku”. Ketiga, sudut pandang campuran, yaitu mengisahkan atau menggunakan sudut pandang ”Dia” manatahu dan ”Dia” terbatas atau sudut pandang ”Aku” sebagai tokoh utama dan ”Aku” sebagai tokoh tambahan. Dalam cerita tampil secara bersamaan, bukan satu-satu.     Sudut pandang dalam novel Negeri 5 Menara adalah orang pertama (Aku) monolog akulirik. Ini terlihat jelas dari si penulis yang menceritakan kisah dan pengalamannya dengan menggunakan orang pertama (Aku) sampai cerita ini berakhir. ”Bagiku, tiga tahun di madrasah tsanawiyah rasanya sudah cukup untuk mempersiapkan dasar ilmu agama. Kini saatnya aku mendalami ilmu non agama. Tidak madrasah lagi. Aku ingin kuliah di UI, ITB dan terus ke Jerman seperti Pak Habibie. Kala itu aku menganggap Habibie adalah seperti seperti profesi sendiri.” (N5M, 2009:8)
            Gaya bahasa menyangkut kemahiran pengarang mempergunakan  bahasa sebagai medium fiksi. Penggunaan bahasa harus relevan dan menunjang permasalahan yang hendak dikemukakan.  Gaya bahasa dalam novel Negeri 5 Menara selain menggunakan bahasa Indonesia, umumnya juga menggunakan bahasa daerah.
            Pertama, menggunakan bahasa daerah Minangkabau. ”…konco palangkin-ku. Teman akrabku.” (N5M, 2009:101). Kedua, menggunakan bahasa daerah Bandung. ”Kita bisa reuni euy. Raja kan juga di London” (N5M, 2009:4). Ketiga, menggunakan bahasa daerah Medan. ”Bos, kau murid macem mana ni, kok bisa gak tahu.”(N5M, 2009:49)
            Novel ini juga menggunakan majas perbandingan. Ini mendukung gaya bahasanya yang inspiratif. ”Kubah raksasanya yang berundak-undak semakin memutih ditaburi salju, bagai mengenakan kopiah haji.” (N5M, 2009:1).
            Tema  adalah sebuah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra. Tema dapat digolongkan menjadi tema tradisional, yaitu tema yang menunjukkan pada tema yang hanya itu-itu saja dan telah lama digunakan dalam berbagai cerita, bersifat wajar dan bisa diterima logika pembaca, kemudian tema non tradisional, yaitu tema yang merupakan sesuatu yang tidak lazim atau tidak sesuai dengan harapan pembaca, bertentangan, dan melawan arus. Novel Negeri 5 Menara bertemakan kesungguhan dan kerja keras untuk mendapatkan impian dan cita-cita yang menjadi kenyataan. Ini terlihat dari perjuangan tokoh utama dalam meraih impian, meskipun belajar di pondok bukanlah pilihan utamanya. Akan tetapi, dia tetap berusaha untuk mewujudkan impiannya menjadi orang hebat dan bisa ke negara impiannya, Amerika. Novel ini bersifat tradisional karena temanya bersifat wajar dan bisa diterima logika pembaca, di mana dengan kesungguhan dan kerja keras, segala impian dan cita-cita memang berkemungkinan dapat diwujudkan.
            Unsur intrinsik dalam novel Negeri 5 Menara adalah seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Selain unsur intrinsik, unsur ekstrinsik juga merupakan unsur prosa fiksi. Penjabaran unsur ekstrinsik prosa fiksi (novel), sebagai berikut.
            Nilai agama berkaitan dengan adanya unsur-unsur keagamaan dalam sebuah cerita. Nilai agama dalam novel Negeri 5 Menara digambarkan dari tokoh-tokohnya yang beragama Islam dan ceritanya sangat bernuansa Islami dengan menghadirkan kutipan-kutipan hadist. ”Hadist mengatakan: Innallaha jamiil wahuwa yuhibbul jamal. Sesungguhnya Tuhan itu indah dan mencintai keindahan.” (N5M, 2009:34)
            Nilai agama dalam novel ini juga terlihat dari gambaran kehidupan pesantren dalam mendidik muridnya menjadi umat muslim yang tidak mudah menyerah dalam mencapai impian dengan menggunakan istilah-istilah bahasa Arab sebagai penyemangat. Istilah bahasa Arab ini seperti ’Man Jadda Wajada’ yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Kemudian ’Man Shabara Zhafira’, siapa yang bersabar akan beruntung.
            Nilai sosial berkaitan dengan adanya nilai-nilai sosial dalam kehidupan atau lingkungan masyarakat dalam sebuah cerita. Nilai sosial dalam novel Negeri 5 Menara menggambarkan tentang keharusan menjaga persaudaraan meskipun berbeda latar belakang. Nilai tersebut terlihat dari kisah persahabatan anggota Sahibul Menara yang berbeda asal, baik saat berada di PM maupun setelah kelulusan. ”Seperti kata orang bijak, penderitaan bersamalah yang menjadi semen dari pertemanan yang lekat. Sejak menjadi jasus keamanan pusat, aku, Raja, Said, Dulmajid, Atang, dan Baso lebih sering berkumpul dan belajar bersama. Kalau lelah belajar, kami membahas kemungkinan untuk bebas dari jerat pengawasan keamanan.” (N5M, 2009:92)
            Nilai moral adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan susila, tingkah laku, serta etika dalam kehidupan. Nilai moral dalam novel Negeri 5 Menara yaitu mengenai kedisiplinan. Kedisiplinan pada novel ini sangat ditonjolkan karena pengarang ingin memperlihatkan bahwa kedisiplinan merupakan satu pilar karakter yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi pribadi yang matang dan sukses. Inilah yang menyebabkan PM begitu ketat menerapkan kedisiplinan dalam mendidik para santrinya. ”….ingat juga bahwa aturan di sini punya konsekuensi hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Kalau tidak bisa mengikuti aturan, mungkin kalian tidak cocok di sini.” (N5M, 2009:51)
            Nilai moral lainnya menyangkut etika, yaitu kesopanan karena novel ini menceritakan tentang umat muslim yang memiliki etika yang baik. Ini tergambarkan dari sifat para santri di PM. ”Bapak, Ibu dan tamu pondok yang berbahagia. Selamat datang di Pondok Madani….Semoga Anda menikmati kunjungan ini dan kami bisa melayani dengan sebaik-baiknya.” (N5M, 2009:31)
            Nilai politik adalah nilai-nilai politik yang disampaikan pengarang dalam sebuah karya sastra. Nilai politik yang terdapat dalam novel Negeri 5 Menara tampak dari penanaman pikiran-pikiran tertentu yang berhubungan dengan pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan yang berbasis Islam. Pengarang ingin menunjukkan bahwa pesantren adalah sebuah pendidikan alternatif yang mampu memberikan pengaruh besar untuk sebuah perubahan keadaan yang lebih baik dengan mencetak individu-individu yang baik secara intelektual maupun spiritual. ”Menuntut ilmu di PM bukan buat gagah-gagahan dan bukan biar bisa bahasa asing. Tapi menuntut ilmu karena Tuhan semata. Karena itulah kalian tidak akan kami beri ijazah, tidak akan kami beri ikan, tapi akan mendapat ilmu dan kail. Kami para ustad, ikhlas mendidik kalian dan kalian ikhlaskan pula niat untuk mau dididik.” (N5M, 2009:50)
            Kutipan di atas menunjukkan bahwa PM adalah institusi pendidikan yang membantu membentuk manusia yang baik intelektual dan spiritualnya, PM mendidik para santrinya untuk menjadi pribadi yang ikhlas. Dikemukakannya hal-hal ini agar pembaca mengetahui kelebihan-kelebihan pendidikan di Pondok Madani, sehingga berminat untuk belajar di PM. Pengarang ingin memperkenalkan Pondok Madani kepada para pembaca beserta dengan kelebihan yang akan didapatkan bila menuntut ilmu di pesantren (Pondok Madani). Selain itu, pengarang juga ingin memperlihatkan kepada pembaca bahwa pesantren bukan hanya sekadar mengajarkan ilmu agama atau mencetak individu untuk menjadi ustad, tetapi pesantren telah banyak meluluskan orang-orang hebat di negeri ini dan banyak yang berhasil sampai ke luar negeri. Ini terlihat dari keberhasilan para Sahibul Menara dalam mewujudkan impian mereka. Kini mereka berhasil berada di negara impiannya masing-masing.
            Nilai pendidikan berkenaan dengan adanya nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan dalam sebuah cerita. Nilai pendidikan dalam novel Negeri 5 Menara adalah mengenai pendidikan akhlak yang diajarkan di Pondok Madani. Pertama, pendidikan akhlak terhadap Allah SWT, yaitu melaksanakan segala sesuatu semata-mata hanya karena Allah. ”Anak-anakku. Mulai hari ini, bulatkanlah niat di hati kalian. Niatkan menuntut ilmu hanya karena Allah, Lillahi Taala.” (N5M, 2009:50). Nilai pendidikan lainnya ialah pendidikan akhlak terhadap Allah yang mengajarkan untuk selalu memohon bantuan dan petunjuk kepada Allah SWT. ”Sebelum kita tutup acara malam ini, mari kita berdoa untuk misi utama hidup kita, yaitu rahmatan lil alamin,…” (N5M, 2009:52)
            Kedua, pendidikan akhlak terhadap diri sendiri. Terlihat pada sikap tokoh utama yang dapat menerima keadaan dirinya dengan ikhlas. ”Melihat uang di kantong terbatas, aku memutuskan untuk membeli lemari bekas saja. Untuk itu aku harus memilih baik-baik lemari yang masih bisa dipakai.” (N5M, 2009:62)
            Nilai pendidikan akhlak terhadap sesama manusia digambarkan pada sikap Raja yang ikhlas berbagi pengetahuan kepada Sahibul Menara. ”…..Raja dengan bersemangat. Dia selalu dengan senang hati berbagi informasi apa saja, melebihi dari apa yang kami tanya….Bagusnya, dia tidak pelit dengan informasi.” (N5M, 2009:61)
            Ketiga, nilai pendidikan akhlak kepada orangtua, seperti mematuhi perintah orangtua. Ini terlihat dari tokoh utama yang mematuhi keinginan amaknya masuk sekolah agama meskipun dia menginginkan masuk SMA. ”Amak, kalau memang harus sekolah agama, ambo ingin masuk pondok saja di Jawa. Tidak mau di Bukittinggi atau Padang,” kataku di mulut pintu. Suara cempreng puberitasku memecah keheningan Minggu pagi itu. (N5M, 2009:12)
            Nilai pendidikan lainnya yang dapat dipetik dalam novel ini adalah keoptimisan dalam mewujudkan mimpi melalui ikhtiar, yang terlihat dari terwujudnya impian semua anggota Sahibul Menara untuk berada di negara impian mereka masing-masing. ”Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Tapi lihatlah hari ini. Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. Kami berenam telah berada di lima negara yang berbeda. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.” (N5M, 2009:405)
            Nilai ekonomi adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi dalam cerita. Nilai ekonomi dalam novel Negeri 5 Menara terlihat dari perekonomian anggota Sahibul Menara, yaitu Baso yang telah banyak menunggak uang makan di PM. Di PM para santri tidak pernah dikeluarkan hanya karena tidak membayar uang sekolah. PM banyak memberikan beasiswa kepada para santri yang kurang baik perekonomiannya, hanya saja hal tersebut diberikan tanpa pemberitahuan resmi kepada santri yang bersangkutan.
”Sudah dua bulan aku tidak bayar uang makan.” (N5M, 2009:359)
”PM selama ini tidak pernah mengeluarkan murid hanya karena tidak bayar uang sekolah. Memang, walau PM tidak menggembar-gemborkan ada beasiswa, sesungguhnya sekolah kami banyak memberikan beasiswa tanpa kami sadari.” (N5M, 2009:359)
            Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebudayaan masyarakat yang diungkapkan oleh pengarang dalam karyanya. Nilai budaya dalam novel Negeri 5 Menara yang paling ditonjolkan adalah budaya Minangkabau dari sosok Alif. Alif berasal dari Sumatera Barat, tepatnya di Desa Bayur, Danau Maninjau. Selain itu, juga diceritakan mengenai makanan khas orang Minang, yaitu rendang. Kata-kata dalam bahasa Minang juga banyak dihadirkan dalam novel ini.
Buyuang, sejak waang masih dikandungan, amak selalu punya cita-cita, mata amak kembali menatapku.” (N5M, 2009:8)
”Ini rendang spesial karena dimasak amak yang lahir di Kapau, sebuah desa kecil di Bukittinggi. Kapau terkenal dengan masakan lezat yang berlinang-linang kuah santan.” (N5M, 2009:14)
            Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya. Ada beberapa pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam novel Negeri 5 Menara. Pertama, berjuanglah dan bekerjakeraslah untuk mewujudkan cita-cita dan impian. Kedua, patuhlah kepada ibu karena surga berada di bawah telapak kaki ibu, raihlah ridho Allah dan orangtua karena itulah yang akan mengantarkan kita kepada kesuksesan dunia dan akhirat. Ketiga, inti hidup adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras, doa, dan tawakal. Semua pesan ini digambarkan dari keputusan alif untuk mengikuti keinginan amaknya, kerja kerasnya untuk tetap belajar di pondok, dan keikhlasannya untuk dididik oleh para ustad di PM, sampai akhirnya ia berhasil menginjakkan kaki di negara impiannya, Amerika. Dengan kesungguhan dan ridho Allah serta orangtua telah mengantarkan Alif kepada kesuksesan. Kerja keras juga diperlihatkan dari anggota Sahibul Menara lainnya, di mana mereka juga berhasil meraih impiannya masing-masing. ”Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Tapi lihatlah hari ini. Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. Kami berenam telah berada di lima negara yang berbeda. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.” (N5M, 2009:405)
            Sinopsis novel Negeri 5 Menara sebagai berikut. Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil) begitulah mantra luar biasa yang telah membawa Alif sampai pada puncak kesuksesannya. Berangkat dari Maninjau menuju ke Pondok Madani (Gontor) dengan setengah hati karena dilemanya dia tidak bisa melanjutkan ke SMA, tidak seperti teman dekatnya, Randai. Akan tetapi, keputusan setengah hatinya itu adalah pilihan tepat dari kehendak ibunya. Manajemen pendidikan dan pembelajaran di PM telah banyak mendidiknya menjadi sosok yang luar biasa bersama lima teman dekatnya yang dikenal dengan Sahibul Menara, yaitu Raja, Baso, Dulmajid, Atang, dan Said. Persahabatan yang terjalin erat, saling membantu satu sama lain baik dalam urusan pelajaran maupun urusan lainnya. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Itulah yang membuat mereka semakin akrab, kompak, dan saling mengisi satu sama lain. Aturan yang ketat, disiplin tinggi, tegas, dan hukum ditegakkan sesuai dengan aturan yang berlaku telah membuat mereka semakin kuat dan menjadi sosok yang pantang menyerah menghadapi hidup. Keikhlasan, ketulusan, dan motivasi yang tinggi dari para ustad dan kiai di PM dalam mendidik mereka berbuah hasil yang lebat. Sampai pada akhirnya semangat, kesungguhan yang kuat, dan disertai doa, telah mengantarkan mereka mencapai impiannya masing-masing.
            Novel Negeri 5 Menara memiliki banyak kelebihan. Novel ini sangat luar biasa, penuh motivasi dan inspirasi, mengisahkan tentang perjuangan yang tinggi dalam meraih cita-cita, persahabatan yang saling memberi dan menasihati, serta menggambarkan sistem pendidikan dan pembelajaran yang diterapkan di Pondok Madani yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, kejujuran dan tanggung jawab. Mantra ’Man Jadda Wajada’ dan ’Man Shabara Zhafira’ mampu memberikan motivasi pada para pembaca untuk meraih cita-cita dan impiannya. Novel ini sangat menarik dan inspiratif. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini juga sangat menarik. Ringan, deskriptif dan mengalir, serta mampu memperkaya kosakata dan wawasan berbagai macam bahasa daerah. Di dalam novel ini terdapat bahasa daerah Maninjau, Medan, Sunda, dan Arab lengkap dengan catatan kaki di bagian bawah yang menjelaskan arti dari kata tersebut. Fisik dari novel ini juga menarik. Kover dengan desain gambar lima menara serta warna kover yang menyerupai warna senja, ilustrasi lingkungan pondok berupa desain gambar, dan pembatas buku yang tersedia turut menambah daya tarik dari novel ini.
            Kekurangan dari novel Negeri 5 Menara terlihat dari klimaks cerita yang kurang menonjol, sehingga pembaca merasa dinamika cerita sedikit datar. Setelah selesai membaca, pembaca akan merasa cerita belum selesai setuntas-tuntasnya. Hal ini mungkin disebabkan karena penulis mendasarkan ceritanya pada kisah nyata dan tidak ingin melebih-lebihkannya. Mungkin akan lebih baik jika penulis membuat konflik-konflik yang lebih tegang atau menuliskan akhir cerita yang lebih memukau pembaca. Penulis sangat mungkin menyisipkan dialog hati agar menyentuh kesadaran para pembaca. Jika ini dilakukan, novel ini akan lebih menginspirasi banyak pihak di tengah carut-marutnya pendidikan moral di negeri kita.









           
             







                       

           
             

           



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar