Minggu, 06 Januari 2013

Belajar Pemecahan Masalah kepada ‘Aisyah


Apa Itu Masalah dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

       Masalah (problem) bisa didefinisikan sebagai perasaan akan adanya kesulitan yang harus dilalui atau rintangan yang harus dilewati untuk mewujudkan tujuan. Masalah bisa juga dikatakan bahwa ia merupakan benturan dengan realitas yang tidak kita inginkan, seolah-olah kita menginginkan sesuatu, kemudian mendapatkan sebaliknya. Agar kita bisa menghadapi berbagai masalah dan mengatasinya, kita harus menempuh sebuah pendekatan tertentu yang membuat kita bisa merasakan adanya masalah, mengenalinya, dan mengidentifikasi karakternya, kemudian memikirkan berbagai solusi pemecahannya, lalu menerapkan solusi pemecahannya, lalu menerapkan solusi yang paling ideal dan memastikan hal tersebut, kemudian merefleksikan perkembangan dan hasil yang diperoleh.
        Hal ini tentu saja menuntut pencurahan seluruh daya kemampuan untuk melakukan kajian dan pemikiran serius terhadap berbagai fase perkembangan dan sejumlah topik permasalahan. Terkadang ia berhasil dalam waktu yang relatif cepat, namun ada juga yang memakan waktu yang lama. Yang terpenting di sini adalah melatih dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hal tersebut dan membangun kemampuan berpikir yang diperlukan untuk hal ini.
        Bagaimanakah pendekatan yang ditempuh oleh Ummul mukminin ‘Aisyah dalam menghadapi masalah ini?

            Masalah yang dialami Ummul mukminin ‘Aisyah dikenal dengan sebutan “haaditsah al-ifk” (skandal isu kebohongan perselingkuhan ‘Aisyah). Secara singkat, kasus ini merupakan penyebaran isu oleh kalangan orang-orang munafik yang berisi tuduhan zina kepada Ummul mukminin ‘Aisyah, ketika ia ketinggalan dari rombongan pasukan dalam sebuah peperangan, kemudian diantar oleh seorang sahabat yang bernama Shafwan ibnu Al-Mu’aththal As-Sulami Adz-Dzakwani di atas unta Shafwan. Setelah itu, menyebarlah berbagai isu miring mengenai dirinya yang bergerak cepat seperti api membakar rumput kering.
Masalah ini memiliki dua sisi kejadian:
1. ketika Ummul mukminin mendapati dirinya sendirian dan telah ditinggal oleh rombongan pasukan; dan
2. ketika isu tentang dirinya menyebar luas, padahal ia sama sekali tidak pernah memikirkannya.

       Apa yang dilakukan Ummul mukminin ‘Aisyah menghadapi kedua sisi masalah ini?

1. Adanya sense of crisis akan suatu masalah dan keterlibatan di dalamnya.

            Penting diketahui bahwa suatu masalah tidak akan berarti apa-apa selama seseorang atau orang yang memiliki kaitan dengan masalah itu tidak merasakannya sebagai masalah. Dalam kasus ini, Sayyidah ‘Aisyah sudah merasakan dirinya berada dalam  masalah ketika ia kembali (setelah buang hajat) dan tidak mendapati rombongan pasukan di tempatnya. Ini baru dari sisi pertama masalah.
            Sementara dari sisi kedua yakni tuduhan perzinaan atas dirinya. Ia menyadari adanya masalah yang melilit dirinya ketika ia diberi tahu oleh Ummu Misthah mengenai isu miring yang berkembang tentang dirinya. Sebelumnya, ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal tersebut, sehingga ia pun terkejut dengan apa yang dikatakan Ummu Misthah, bahkan pada mulanya ia sempat membela Abu Misthah sebagai ahli Badar yang tidak layak dicaci-maki.

2. Tetap menjaga konsistensi diri dan tidak droop ataupun panik.

            Dalam menghadapi masalah yang sangat berat ini, Ibunda kita, ‘Aisyah mampu menguasai diri dan tetap tenang, meskipun situasinya saat itu sangat berat karena ditinggal sendirian oleh rombongan pasukan yang sudah berangkat (tanpa menyadari ketinggalannya). Ia juga mampu menjaga keseimbangan jiwanya ketika mendengar isu miring tentang dirinya dan menyerap efek kejutan yang mengguncangnya, meskipun ia sebenarnya terkejut dan kaget dengan yang diisukan tentang dirinya.
            Kestabilan dan ketegaran jiwa (dalam menghadapi krisis) terwujud dengan memohon pertolongan kepada Allah lewat do’a, shalat, dzikir, berbaik sangka kepada Allah dan kaum muslimin yang terkait dengan masalahnya, dan tetap optimis. Aspek keimanan secara umum juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam menjaga kondisi tersebut dalam seluruh fase penyelesaian masalah; dan inilah yang dipegang teguh oleh ibunda kita ‘Aisyah.

3. Memikirkan berbagai solusi permasalahan yang memungkinkan.

            Pada bagian masalah yang pertama, setelah menyadari dirinya berada dalam masalah dan mampu mengidentifikasi masalah yang menghadangnya, maka terlintaslah dalam benaknya ibunda kita hal-hal sebagai berikut:
a. Menyusul rombongan pasukan. Namun ia terbentur pada kendala antara lain: tidak adanya kendaraan, waktu beranjak malam, dan ia tidak bisa berjalan sendirian.
b. Tetap bertahan di tempat semula sambil bersembunyi.
c. Pergi ke tempat lain.
d. Tetap di tempat yang sama sambil menunggu kembali rombongan pasukan atau beberapa orang diantara mereka, karena jika mereka merasa kehilangan dirinya, tentu mereka akan kembali ke tempat tersebut untuk mencari dirinya.
e. Mencari seseorang yang juga ketinggalan rombongan pasukan sepertinya atau seseorang yang mengejar rombongan pasukan.
            Adapun pada bagian masalah yang kedua, yaitu setelah isu miring tentang dirinya menyebar, Ibunda kita, ‘Aisyah pun memikirkan berbagai kemungkinan solusi sebagai berikut:
*memberikan pembelaan diri
*menyerahkan urusan kepada Rasulullah sambil tetap tinggal di rumahnya, sambil memperhatikan keterpengaruhan Rasulullah dengan isu yang telah menyebarluas tersebut;
*kembali kepada keluarganya sambil bersabar dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah.

4. Menerapkan solusi yang tepat di antara solusi-solusi alternatif yang tersedia.

       Pada bagian pertama, Sayyidah ‘Aisyah memutuskan untuk tetap bertahan di tempat bekas perkemahan pasukan sebelumnya dengan harapan mereka atau beberapa orang diantara mereka akan kembali. Dalam kondisi tersebut, muncullah Shafwan. Tampaknya ‘Aisyah menyangka bahwa Shafwan sengaja dikirim oleh rombongan pasukan untuk menjemputnya. Ia pun langsung naik untanya tanpa berkata apa-apa kepadanya. Karena itu, tidak terlintas di benaknya sama sekali jika kemudian muncul gosip miring tentang dirinya karena ia merasa Shafwan dikirim oleh rombongan pasukan untuk menjemputnya.
     Adapun terkait dengan gosip dan tuduhan zina yang dialamatkan kepadanya (sebagai bagian kedua masalah), ‘Aisyah memutuskan untuk memohon kepada Rasulullah agar diizinkan pulang ke rumah orang tuanya. Dan ia benar-benar melakukannya karena menurutnya masalah ini perlu diselesaikan segera selama Rasulullah belum mendapatkan wahyu determinatif tentang masalah tersebut. Selain itu, kasus-kasus seperti ini juga membutuhkan rentang waktu agar masalahnya mereda dan tenang.
       Pilihannya untuk pergi ke rumah orang tuanya dengan demikian mengandung banyak kebijakan (hikmah) dan kecerdasan (hinkah). Hal ini diperkuat lagi dengan persetujuan Rasulullah atas permohonan tersebut secara cepat, sehingga semakin jelas bagi Ummul mukminin ‘Aisyah bahwa keputusan yang dipikirkan dan diambilnya sudah tepat. Ia pun keluar dari masalah dengan kondisi yang lebih kuat daripada sebelumnya, sebab Allah menyatakannya bersih dari segala tuduhan dan isu yang berkembang, langsung dari langit ketujuh. Sederet ayat Al-Qur’an yang dibaca (hingga hari Kiamat) pun turun mengenai dirinya, dan hal itu memberikan sejumlah implikasi hukum dan penanganan masalah. Semua ini ternyata berbuah banyak kebaikan.
      Kasus ‘Aisyah menjadi acuan dan solusi detinitif yang bisa diikuti jika terjadi kasus atau permasalahan seperti ini, sebab sebelumnya belum pernah ada kasus demikian. Kasus ini juga menjadi teladan baik bagi setiap pemudi muslimah agar tegar menghadapi segala permasalahan, sabar, berhati-hati (tidak tergesa-gesa), dan menghadapi segala situasi dengan penuh ketenangan dan tekad diri sampai masalah yang dihadapinya benar-benar terselesaikan dengan kehendak Allah.
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar